Kamis, 15 Mei 2014

Laporan lengkap Phylum Porifera

BAB I
PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang
Porifera merupakan hewan yang berpori dan sering juga disebut hewan berongga karena seluruh tubuhnya dipenuhi oleh lubang-lubang kecil yang disebut pori.  Hewan ini sederhana karna selama hidupnya menetap pada karang atau permukaan benda keras lainnya di dasar laut.  Phylum porifera yaitu spons hidup di air dan sebagian besar hidup di air laut yang hangat dan dekat dengan pantai yang  dangkal walaupun ada pula yang hidup pada kedalaman  8500 meter bahkan lebih.  Spons sering ditemukan hidup melekat pada substrat yang keras dan hidupnya berkoloni yang statif atau tidak bergerak .  Spons belum memiliki alat-alat eskresi khusus dan sisa metabolismenya dikeluarkan melalui proses difusi yaitu dari sel tubuh ke epidermis kemudian lingkungan hidup yang berair (Kimball, 2000)
Porifera mempunyai 3000 spesies dan secara umum hidupnya dilaut dangkal sampai kedalaman  5 km. dari 3000 ribu spesies yang dikenal hanya 150 spesies yang hidup di air tawar sampai kedalaman 2 meter dan jarang lebihn dari 4 meter yang biasanya hidup pada air jernih dan tenang. Di laut jenis calcarea  umumnya terbatas pada daerah pantai dangkal.  Reproduksi porifera berlangsung secara aseksual dengan membentuk kuncup, seksual dengan pertemuan ovum dan sperma.  Perkembangan  secara generatif berlangsung dengan terjadinya peleburan sel kelamin jantan dan betina (Sugiarti, 2004).
Porifera berkembangbiak secara aseksual dan seksual. Perkembangbiakan secara aseksual yaitu dengan pembentukan tunas (budding). Tunas atau budding yang dihasilkan tersebut kemudian memisahkan diri dari induknya dan hidup sebagai individu baru, atau tetap menempel pada induknya sehingga menambah jumlah bagian-bagian dari kelompok porifera. Sedangkan perkembangbiakan secara seksual terjadi dengan cara peleburan antara sel telur dan spermatozoid, dan menghasilkan zigot dan selanjutnya berkembang menjadi larva berflagel, larva tersebut dapat berenang dan keluar melalui osculum. Bila menemukan tempat yang sesuai, larva akan tumbuh dan berkembang menjadi porifera baru.
1.2  Rumusan Masalah
1)      Dimanakah habitat Phylum Porifera ?
2)      Bagaimana ciri dan jenis Phylum Porifera ?
3)      Bagaimana cara mengidentifikasi Phylum Porifera ?
4)      Apa klasifikasi dari Phylum Porifera ?
1.3  Tujuan
1)      Untuk mengetahui dan mengamati habitat Phylum Porifera
2)      Untuk mengetahui dan mengamati ciri dan jenis Phylum Porifera
3)      Untuk mengidentifikasi Phylum Porifera
4)      Untuk mengetahui klasifikasi Phylum Porifera

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Porifera (Latin: porus = pori, fer = membawa) atau spons atau hewan berpori adalah sebuah filum untuk hewan multiseluler yang paling sederhana.Ciri-ciri morfologinya antara lain:tubuhnya berpori (ostium) yang banyak dan membentuk suatu Sistem. Makanannya adalah bakteri dan plankton. Makanan yang masuk ke tubuhnya dalam bentuk cairan sehingga porifera disebut juga sebagai pemakan cairan. Habitat porifera umumnya di laut.ReproduksiPorifera melakukan reproduksi secara aseksual maupun seksual. Reproduksi secara aseksual terjadi dengan pembentukan tunas dan gemmule. Gemmule disebut juga tunas internal. Gemmule dihasilkan menjelang musim dingin di dalam tubuh Porifera yang hidup di air tawar. Secara
Seksual dengan cara peleburan sel sperma dengan sel ovum, pembuahan ini terjadi di luar tubuh porifera. Porifera hidup di air laut dan air tawar, tapi kebanyakan hidup di laut mulai dari daerah perairan pantai yang dangkal hingga kedalaman 5,5 km. Bentuk tubuhnya seperti tabung atau jambangan bunga yang bersifat simetris radial. Di dalam tubuhnya terdapat rongga tubuh yang disebut spongosol. Dalam fase hidupnya mengalami dua bentuk, yaitu polip (hidup berenang bebas). Ini terjadi pada fase larva. Lalu yang kedua sessil (hidup menetap) setelah dewasa.Struktur tubuh porifera terdiri atas dua lapisan yaitu epidermis dan endodermis. Epidermis (lapisan luar) terdiri atas sel-sel epithelium berbentuk pipih (pinakosit). Endodermis terdiri atas sel berflagela yang berfungsi mencerna makanan dan bercorong yang disebut sel leher atau koanosit. Di antara kedua lapisan itu terdapat bahan gelatin yang disebut mesoglea (Anonim, 2010).
 Beberapa jenis spons laut seperti spons jari berwarna oranye, Axinella canabina, diperdagangkan untuk menghias akuarium laut; ada kalanya diekspor ke Singapura dan Eopa. Jenis spons dari family Clionidae mampu mengebor dan menembus batu karang dan cangkang molusca sehingga membantu pelapukan pecahan batu karang dan cangkang molusca yang berserakan di tepi pantai. Ada pula spons yang tumbuh pada kerang-kerangan tertentu dan mengganggu peternakan tiram. Tidak hanya hewan yang memakan spons karena banyak spikulanya dan baunya tidak sedap. Musuh utama spons laut ialah siput jenis Nudibrancia. Musuh spons air tawar ialah larva serangga dari ordo Neuroptera. Spons air tawar acapkali mengotori jarring apung, mengganggu aliran air ke dalam jarring apung (Sugiarti, 2005 : 38-39).
Umumnya hewan Porifera dijumpai hidup di laut, melekat pada substrat dan hanya bergerak sedikit sekali. Hanya famili Spongilliade (kurang dari 150 species) yang hidup di air tawar pada Porifera yang hidup di laut berkisar 10.000 species. Umumnya pada air dangkal, namun ada pula pada bagian yang dalam. Berdasarkan bentuknya Porifera dibedakan menjadi tiga tipe utama, yaitu; tipe Ascon, tipe Sycon atau Schypa atau tipe Rhagon (Hartati, 2009: 46-47).




BAB III
METODOLOGI
3.1 Waktu dan Tempat
Waktu             : 08.00 – Selesai WITA
Tempat            : Daerah pesentasi (pusat laut) Kecamatan Banawa Tengah Kab.
                          Donggala
3.2 Alat dan Bahan
            Adapun alat dan bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah sebagai berikut :
a.      Alat                                                                 b. Bahan
§  Thermometer                                                   - Formalin 70%
§  Salinometer                                                     - Alkohol 70%
§  Do meter                                                         - Air
§  Sarung tangan                                                 - Sampel Phylum porifera
§  Snar kecil
§  Toples
§  Ember
§  Kertas tebal
§  Alat tulis menulis
3.2  Prosedur Kerja
1.      Menyiapkan Alat dan Bahan
2.      Mengobservasi keadaan fisik kimia lingkungan pengamatan
3.      Mengamati habitat, ciri-ciri dan bentuk Phylum porifera
4.      Mengambil sampel Phylum porifera
5.      Mengidentifikasi, mengklasifikasikan dan menggambar sampel Phylum porifera yang ditemukan
6.      Memasukan data kedalam tabel hasil pengamatan
7.      Mengawetkan sampel Phylum porifera dengan menggunakan formalin 4% dan air
BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1  Hasil Pengamatan
Tabel 1.1 Kondisi Fisik-kimia Lingkungan
NO
Waktu
Parameter
Suhu
Kelembaban
Salinitas
1
Pagi
30,3oC
8,2oC
8,30oC
Tabel 1.2
No
Nama/Gambar
Ket
Klasifikasi
I
Kelas : Caicarea
1.Oskulum
2.Pori-pori
Kingdom :Anamalia
Filum       : Porifera
Kelas       : Caicarea
Ordo        : Leucorulendia
Famili      :  Sycettidae
Genus      : Sycon
Spesies     : Sycon galatinosum












No
Nama/Gambar
Ket
Klasifikasi
II
Kelas :Demospongia
1.oskulum
2.pori-pori
Kingdom : Animalia
Filum       : Porifera
Kelas       : Piceyoceratida
Ordo        : Calaspongia
Famili      : Spongidae
Genus      :  Hyppospongia
Spesie      : Hypospongia equine


III
Kelas : Demospongia
1.oskulum
2.pori-pori
Kingdom : Animalia
Filum       : Porifera
Kelas       : Demospongia
Ordo        : Teratosa
Famili      : Sponglidae
Genus      :  Spongila
Spesies     : Spongila corter






























4. 2 Pembahasan
Sycon galatinosum
a.   Morfologi Umum     
Kingdom         : Animalia
Filum               : Porifera
Kelas               : Calcarea
Sub Kelas        : Calcaronea
Ordo                : Leucosolenida
Famili              : Sycettidae
Genus              : Sycon
Spesies            : Sycon gelatinosum                                        
Bentuk luar dari spons dewasa bervariasi, mulai dari berupa tabung tunggal sampai koloni dari tabung-tabung tunggal. Sebuah lubang pengeluaran  tunggal (Osculum) terdapat pada bagian apical pada tiap-tap tabung dan pada beberapa kasus dikelilingi oleh rumbai-rumbai dari spikula calcarea.
Spons hidup rata-rata berwarna putih keabu-abuan hingga coklat menyala, halus, berlendir dan tidak pernah lebih dari 60 cm tingginya. Dengan pembesaran yang tajam, permukaan spons tampak terbuat dari penonjolan-penonjolan polygonal yang berdiameter kira-kira 0,25 mm dimana pada penonjolan tersebut suatu poros muncul.
b.      Habitat
Sycon gelatinosum adalah spons yang hidup dilautan sedang. Spons ini terdapat pada daerah litoral hingga kedalaman 60 meter.
c.       Reproduksi Seksual dan perkembangan
Sel-sel seks muncul dari sel-sel berflagela pada larva, yang pada keduanya berasal dari koanosit dewasaatau archaeocytes, dan biasanya terdapat pada pinggir mesenkim dari lapisan koanosit. Sel-sel telur bersifat amuboid padatahap awal dan mengembara dalam mesenkim kelapisan koanosit dasar dalam upaya pencarian terhadap sel-sel nutritive. Sperma tidak memasuki sel telur langsung tetapi dimediasi oleh koanosi yang menyerap  sperma, melepaskan penutupnya dan flagellum lalu pindah keposisi yang dekat dengan sel telur. Sperma melepaskan ekornya dan masuk dalam sel telur ketika sel-sel pembawa terabsorbsi.
Pada bagian tengah dari kelompok micromeres ada suatu bukaan yang berfungsi sebagai mulut dan berbatasan dengan koanosit. Ini adallah tahap stomoblastula. Sel-sel epidermis kemudian memperbanyak diri. Mulut menutup dan embrio dikenal sebagai blastula dengan flagella internal.
Selanjutnnya, mulut pada blastula membuka dan meluas untuk membongkar sel-sel flagella. Pada tahap ini lempengan sel-sel melengkung kea arah luar yang mengakibatkan endoflagela berada di luar dengan embrio yang dihasilkan berupa amphiblastula. Amphiblastula ini selanjutnya berkembang menjadi porifera dewasa.
Hypospongia equine
Porifera merupakan golongan hewan bersel banyak (metazoa) yang sangat primitif (sederhana). Sebagian besar hewan ini hidup di laut dangkal sampai pada kedalaman 3,5 meter. Porifera mempuyai bentuk tubuh menyerupai piala atau vas bunga dan hidup melekat pada dasar perairan (sessile). Tubuh porifera terdiri dari dua lapisan sel (diploblastik) dengan lapisan luar (epidermis) tersusun atas sel-sel berbentuk pipih yang disebut pinakosit. Sedangkan pada bagian dalam tersusun atas sel-el berleher dan berflagel disebut koanosit dan berfungsi untuk mencernakan makanan. Diantara epidermis dan koanosit terdapat lapisan tengah berupa bahan kental yang disebut mesoglea atau mesenkim.
Makanan Porifera berupa partikel zat organik atau makhluk hidup kecil yang masuk bersama air melalui pori-pori tubuhnya. Makanan akan ditangkap oleh flagel pada koanosit. Selanjutnya makanan dicerna di dalam koanosit. Dengan demikian pencernaannya secara intraselluler. Setelah dicerna, zat makanan diedarkan oleh sel-sel amubosit ke sel-sel lainnya. Sedangkan zat sisa makanan dikeluarkan melalui oskulum bersama sirkulasi air.
Pada pengamatan yang dilakukan terhadap porifera (sepon), bagian-bagian dari tubuhnya diketahui dan diidentifikasi setelah memperhatikan dan mengamati secara seksama. Bagian-bagian tubuh porifera yang diamati tersebut yaitu lubang-lubang kecil pada permukaan tubuhnya (pori), lubang atau rongga dalam tubuhnya (spongocoel), spikula, dan saluran pengeluaran (oskulum).
Lubang-lubang kecil atau pori yang terdapat pada permukaan tubuh porifera merupakan bagian yang berfungsi sebagai jalan masuk air dan partikel makanan yang bersama dengan masuknya air kedalam tubuh porifera. Didalam tubuh porifera terdapat rongga yang disebut spongosoel yang berfungsi sebagai saluran dalam proses sirkulasi air. Pada bagian ini terdapat sel koanosit yang berfungsi untuk menangkap makanan dengan menggunakan flagelnya yang masuk kedalam tubuh porifera melalui pori-pori permukaan tubuhnya yang masuk bersama dengan aliran air. Makanan yang ditangkap oleh flagel dari sel koanosit selanjutnya akan dicerna oleh sel tersebut dan sisa pencernaannya akan dikeluarkan dari dalam tubuh porifera melalui oskulum. Oskulum merupakan lubang yang terdapat di permukaan tubuh porifera yang berfungsi sebagai saluran pengeluaran dari sisa pencernaan dan saluran keluar dari sirkulasi air.
Reproduksi pada porifera terjadi melalui dua cara yaitu secara aseksual dan dengan cara seksual. Reproduksi aseksual dilakukan dengan cara pembentukan tunas (budding). Sedangkan reproduksi secara seksual dilakukan dengan cara peleburan sel kelamin jantan (sperma) dan sel telur (ovum). Dan sebagian besar hewan Porifera bersifat Hermafrodit, yaitu dalam satu individu mampu menghasilkan sperma dan sel telur sekaligus.
Beberapa jenis sepon misalnya sepon jari berwarna oranye dapat diperdagangkan untuk menghias akuarium air laut. Adapula jenis sepon yang dapat langsung dimanfaatkan oleh manusia, misalnya Hippospongia yakni dapat dipergunakan sebagai spons mandi.
Spongila corter
a.    Morfologi
Spongila corter memiliki banyak pori pada permukaan tubuhnya yang merupakan awal dari sistem kanal (saluran air) yang menghubungkan daerah eksternal dan daerah internal. Tubuhnya dilengkapi dengan apendiks dan bagian yang dapat digerakkan . Bentuk tubuh menyerupai batang dengan ada beberapa cabang yang bentuknya lebih kecil dari batang utamanya. Warna tubuhnya putih keruh coklat . Hewan ini memiliki spikula yang bersifat monoaxon dan dengan serabut spongia. Pada ujung cabangnya terdapat oskulum dan di daerah badannya terdapat ostium.
b.    Anotomi
Dinding tubuh hewan ini tersusun atas 2 lapis yaitu lapis luar  yang disebut lapisan epidermis atau ephitelium dermal. Lapisan dalam yang terdiri dari jajaran sel-sel leher yang disebut soanosit yang berbentuk botol tidak memiliki flagellum. Ditemukan sistem saluran air yang  di mulai dari pori-pori atau porosofil dan diakhiri pada lubang keluar utama. Hewan ini mempunyai ruang gastral atau ruang sentral yang berfungsi sebagai kloaka. Ruang itu dikelilingi oleh dinding yang ditembus oleh sejumlah saluran yang tersusun majemuk.
Porifera dapat dikatakan sebagai hewan walaupun tidak bergerak yaitu karena porifera dapat bertelur.
BAB V
PENUTUP
5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari hasil pengamatan yang dilakukan dan pembahasan di atas adalah sebagai berikut :
1.      Ciri-ciri dari Phylum porifera ini adalah Tubuh umumnya berwarna terang, hijau, kuning jingga, merah dan ungu, jaringan berwarna gelap, tubuhnya tersusun atas banyak sel (multisellular), Tubuh terbentuk agak silinder atau menyerupai vas bunga, tubuh bagian luar berpori-pori yang berhubungan dengan suatu ruangan disebelah dalam yang disebut spongocoel, tubuh didukung oleh spikula dari kalsium karbonat atau silikat, protein sponging fiber atau kombinasi dari dua yang terakhir, Tidak ada mulut ataupun alat pencernaan makanan, pencernaan makanan berlangsung dengan cara intraseluller, Tubuh porifera asimetri (tidak beraturan), meskipun ada yang simetri radial, Berbentuk seperti tabung, vas bunga, mangkuk, atau  tumbuhan
2.      Habitat porifera umumnya di laut, mulai dari tepi pantai hingga laut dengan kedalaman 5 km.Sekitar 150 jenis porifera hidup di ait tawar, misalnya Haliciona dari kelas Demospongia.Porifera yang telah dewasa tidak dapat berpindah tempat (sesil), hidupnya menempel pada batu atau benda lainya di dasar laut.Karena porifera yang bercirikan tidak dapat berpindah tempat, kadang porifera dianggap sebagai tumbuhan.
5.2 Saran
            Adapun saran yang dapat saya sampaikan selaku praktikan adalah agar praktikan lain membawa lebih banyak alat agar lebih banyak mendapatkan jenis-jenis porifera yang diteliti. Serta lebih teliti dalam pengambilan sampel pada habitat Phylum prorifera.
DAFTAR PUSTAKA

Aslan,  L.M., 2003.  Penuntun Praktikum Avertebrata Air. Fakultas  Perikanan dan Ilmu Kelautan Universitas Haluoleo Kendari


Romimoharto, Kasijan dan Juwana, Sri. 2001. Biologi Laut. Djambatan. Jakarta.
Rohana, S. 2003. Biologi Umum. Yushis Tira. Jakarta.
Suwignyo, S. 2005. Avertebrata Air. Penebar Swadaya. Jakarta.

Brotowidjoyo. 2004. Zoologi Dasar. Erlangga.  Jakarta.

Kimball, J.W. 2000. Biologi jilid empat edisi pertama.Erlangga Jakarta.

Sugiarti, S. 2004. Invertebrata Air. Lembaga Sumberdaya Informasi IPB. Bogor.

Suhardi. 2002. Evolusi Vertebrata.Universitas Indonesia.Jakarta.







0 tinggalkan jejak anda, dengan menanggapi postingan:

Posting Komentar

sehabis membaca, tinggalkan pesan anda ya.. sehingga saya bisa tau respon dari orang-orang yang mampir diblog saya.. ok???