KEBUN JATI

Terletak di Desa Talaga Kecamatan Dampelas, dengan Luas 7 ha.

PANTAI BAMBARANO

Pantai berkarang indah ini terletak di Desa Sabang kecamatan Dampelas Kabupaten Donggala.

JEMBATAN PONULELE

Jembatan Kebanggan warga Palu ini berada diwilayah pantai talise menuju arah donggala.

TANJUNG KARANG

salah satu objek wisata pantai, yang terletak di ujung pantai Donggala, dengan suasana pantai yang terasa nyaman.

situs Tadulako dan Pokekea

situs sejarah ini berada di lembah Besoa, Lore Tengah, Kabupaten Poso, Sulawesi Tengah..

Kamis, 22 Januari 2015

Pendugaan Biomassa dan Karbon Pohon di Daerah Ketinggian Taman Nasional Lore Lindu.

 

Pendugaan Biomassa dan Karbon Pohon di Daerah Ketinggian 
Taman Nasional Lore Lindu.
A.  Biomassa Pohon Pada Plot Pengamatan di Ketinggian 1200 mdpl, 1400 mdpl dan 1600 mdpl Di Taman Nasional Lore Lindu.
Berdasarkan hasil pengukuran di lapangan dan Perhitungan Biomassa diperoleh bahwa biomassa pohon di plot pengamatan berukuran 20 m x 100 m, untuk pengukuran dimensi pohon ( dbh ≥ 30 cm ) dan plot pengamatan berukuran 5 m x 40 m, untuk pengukuran dimensi pohon ( 5 cm ≤ dbh ≤ 30 cm ) dengan ketinggian 1200 mdpl, 1400 mdpl, dan 1600 mdpl.di Taman Nasional Lore Lindu.
Tabel 7. Biomassa Pohon Pada Plot Pengamatan di Ketinggian 1200 mdpl
1400 mdpl, 1600 mdpl Di Taman Nasional Lore Lindu.


No
Ketinggian TNLL Biomassa Pohon (ton/ha)

     Pohon              Pohon
(dbh ≥ 30 cm)    (5 cm ≤dbh≤ 30 cm)
Total biomassa   
1. 1200 mdpl     8580.28                    128.19 8708.47   
2. 1400 mdpl     4815.6                      106.68 4922.28   
3. 1600 mdpl     3344.6                      115.2      3459.8  

Pada table 7 dilihat bahwa plot pengamatan di ketinggian 1200 mdpl Taman Nasional Lore Lindu memiliki biomassa pohon tertinggi dan kemudian diketinggian 1400 mdpl dan 1600 mdpl.Hal ini disebabkan karena diplot pengamatan diketinggian 1200 mdpl banyak terdapat pohon yang tumbuh di lahan hutan dan di dominasi oleh vegetasi pohon berdiameter besar, dibandingkan dengan plot pengamatan 1400 mdpl dan 1600 mdpl yang di dominasi oleh vegetasi pohon yang berdiameter kecil.Menurut Bakri (2009) dalam Wahyu (2013), banyaknya individu dari suatu jenis pohon menunjukan tingkat penyebaran dan kemampuan adaptasi yang tinggi terhadap kondisi fisik lingkungan seperti kelembapan dan kecepatan angin sangat berpengaruh terhadap pertumbuhan pohon dan penyebaran biji.
Krebs (1985) dalam Wahyu (2013), menyatakan bahwa kelembapan tanah mempengaruhi penyebaran geografi pada sebagian besar pohon pada hutan pegunungan dan mempengaruhi  dan mempengaruhi kandungan/ketersediaan air tanah , dimana hubungannya dengan temperature dapat mempengaruhi keseimbnagan air tumbuhan. Lebih lanjut ia juga menyatakan angin mempengaruhi kelembapan udara dan penyebaran biji tumbuhan pada hutan pegunungan.
Mark dan Harper (1977) dalam Misra (2011) menyatakan bahwa ukuran individu pohon sangat mempengaruhi jumlah biomassa pohon tersebut. Untuk lebih jelasnya distribusi diameter, kerapatan dan biomassa pohon terdapat pada plot pengamatan (P1)  ketinggian 1200 mdpl, plot pengamatan (P2) ketinggian 1400 mdpl dan plot pengamatam (P3) ketinggian 1600 mdpl, Taman Nasional Lore Lindu.
Tabel 8. Distribusi diameter, kerapatan dan biomassa Pohon pada plot pengamatan 1 (P1) di Ketinggian 1200 mdpl, plot pengamatan 2 (P2) di ketinggian 1400 mdpl, dan pada plot pengamatan 3 (P3) di ketinggian 1600 mdpl, Taman Nasional Lore Lindu.
- Plot pengamatan 1200 mdpl.


No Ketinggian
(mdpl) Distribusi
Diameter (cm) Jumlah
Pohon Kerapatan
(Jumlah Individu/ha) Biomassa
(Ton/ha)
Total   



1.


1200 mdpl 5 – 10
11 – 20
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51 – 60
61 – 70
71 – 80
81 – 90
>90 2
5
6
2
3
3
9
  12
  18
  24 100
250
300
  10
  15
  15
  45
  60
  90
120 
1,41
  24,99
101,79
  54,32
  27,66
     46,6
   206,5                 
   398,7
   825,5
   7021


8708.47  




  



2.


1400 mdpl 5 – 10
11 – 20
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51 – 60
61 – 70
71 – 80
81 – 90
>90 4
7
5
2
2
12
13
17
21
17 200
350
250
  10
  10
  60
  65
  85
105
  85 3,77
30,51
    72,4
8,3
    19,7
  166,6
  314,4
575,8
  946,8
2784


4922.28   



3.


1600 mdpl 5 – 10
11 – 20
21 – 30
31 – 40
41 – 50
51 – 60
61 – 70
71 – 80
81 – 90
>90 5
10
4
14
27
17
12
9
3
9 250
500
200
  70
135
  85
  60
  45
  15
  45 3,8
    53,2
    58,2
    64,5
  223,6
  232,9
  275,6
  302,6
  140,2
2105,2


3454.8  

Pada tabel 9 dilihat bahwa di plot pengamatan (P1) ketinggian 1200 mdpl di dataran tinggi Taman Nasional Lore Lindu mempunyai jumlah Pohon yang berdiameter besar yang dapat mnghasilkan biomassa dengan jumlah yang besar pula yaitu 8708.47 ton/ha. Dibandingkan  pada plot pengamatan (P2) di ketinggian 1400 mdpl yang menghasilkan biomassa 4922.28 ton/ha, dan di plot pengamatan (P3) di ketinggian 1600 mdpl yang hanya menghasilkan biomassa sebesar 3454.8 karena pohon di ketinggian 1600 mdpl di dominasi oleh pohon-pohon yang berdiameter kecil. Suatu system komunitas hutan yang terdiri dari jenis-jenis pohon yang mempunyai nilai kerapatan yang tinggi dan berdiameter besar maka biomassa yang dihasilkan akan lebih tinggi bila di bandingkan dengan komunitas hutan yang mempunyai jenis-jenis pohon dengan nilai kerapatan yang rendah (Rahayu dkk, 2007 dalam Sujarwo dan Darma. 2011)
B. Karbon Pohon Pada Plot Pengamatan Di Ketinggian 1200 mdpl, 1400 mdpl
dan 1600 mdpl Di Taman Nasional Lore Lindu. 
Berdasarkan hasil perhitungan biomassa di peroleh bahwa karbon pohon di atas permukaan tanah di plot pengamatan berukuran 20 m x 100 m untuk pengukuran dimensi pohon ( dbh ≤ 30 cm ) dan plot pengamatan berukuran 5 m x 40 m untuk pengukuran dimensi pohon ( 5 cm ≤ dbh ≤ 30 cm ) dengan ketinggian 1200 mdpl, 1400 mdpl, dan 1600 mdpl. Di Taman Nasional Lore Lindu di terapkan pada table 9.
Tabel 9.Karbon Pohon Pada Plot Pengamatan di Ketinggian 1200 mdpl, 1400 mdpl, 1600 mdpl Di Taman Nasional Lore Lindu.


No
Ketinggian TNLL Karbon Pohon (ton/ha)

     Pohon                      Pohon
(dbh ≥ 30 cm)       (5 cm ≤dbh≤ 30 cm)
Total Karbon   
1. 1200 mdpl     4290.14                     64.095 4354.24   
2. 1400 mdpl     2407.8                     53.34 2461.14   
3. 1600 mdpl     1672.3                     57.6    1729.9  

Pada tabel 9 menunjukkan jumlah karbon yang tersimpan di plot pengamatan ketinggian 1200 mdpl sebesar 4354.24 ton/ha, plot pengamatan di ketinggian 1400 mdpl sebesar 2461.14 ton/ha dan pada ketinggian 1600 mdpl sebesar 1729.9 ton/ha. Menurut Wardah (2009) dalamMisra (2011) Semakin tinggi biomassa maka semakin tinggi pula kandungan Karbon.
Karbon tersimpan dapat diartikan yaitu banyaknya karbon yang mampu diserap oleh tumbuhan dalam bentuk biomassa. Jumlah emisi karbon yang semakin meningkat saat sekarang harus diimbangi dengan jumlah penyerapannya, hal tersebut perlu dilakukan untuk mengurangi dampak dari pemanasan global dengan cara penanaman pohon sebanyak-banyaknya, karena pohon melalui proses foto sintesis dapat mengubah CO2  menjadi O2 melalui reaksi : 
CO2 + H2O sinar matahari C6 H12 O6 + O2
Dari kenyataan tersebut maka dapat diperkirakan berapa banyak pohon yang harus ditanam pada suatu kawasan untuk mengimbangi jumlah karbon yang terbebas diudara (Sujarwo dan Darma, 2011).


Keadaan geografis taman Nasional Lore Lindu

 

Keadaan Geografis Taman nasional Lore Lindu
a. Letak
Secara geografis Taman Nasional Lore Lindu berada pada posisi 1190 90’–1200 16’ BT dan 10 8’–10 3’ LS. Secara administratif terletak dalam 2 (dua) wilayah kabupaten yaitu sebagian besar di Kabupaten Sigi dan sebagian lagi di Kabupaten Poso, terbagi dalam 12 kecamatan yaitu: Kecamatan Kulawi Selatan, Kecamatan Kulawi, Kecamatan Gumbasa, Kecamatan Tanambulava, Kecamatan Sigibiromaru, Kecamatan Palolo dan Kecamatan Nokilalaki di Kabupaten Sigi, Kecamatan Lore Utara,Kecamatan Lore Piore,Kecamatan Lore Tengah,Kecamatan Lore Selatan dan Kecamatan Lore Barat di Kabupaten Poso. Adapun batas-batas Taman Nasional Lore Lindu sebagai berikut :
- Di bagian utara dibatasi oleh Dataran Palolo
- Sebelah timur dibatasi oleh Dataran Napu
- Sebelah selatan dibatasi oleh Dataran Bada, dan 
- Sebelah barat oleh Sungai Lariang dan hulu Sungai Palu (Lembah Kulawi). 
b.  Topografi
Taman Nasional Lore Lindu berada pada ketinggian 200 - 2.610 meter di atas permukaan laut, puncak tertinggi adalah Gunung Nokilalaki (2.355 m) dan gunung Tokosa/ Rorekatimbu (2.610 m). Bentuk topografi bervariasi mulai dari datar, landai, agak curam, curam, hingga sangat curam (Balai TNLL,2013).
c.  Geologi
Taman Nasional Lore Lindu terletak antara dua patahan utama di Sulawesi Tengah. Pada daerah pegunungan, umumnya berasal dari batuan asam seperti Gneisses, Schists dan granit, punya sifat peka terhadap erosi. Formasi lakustrin banyak ditemukan di bagian Timur Taman Nasional, umunya dataran danau yang datar atau berawan. Bahan endapan dari campuran batuan sediment, metamorfosa dan granit. Bagian barat ditemukan formasi alivium yang umumnya berbentuk kipas aluvial/koluvial atau dataran hasil deposisi sungai seperti teras atau rawa belakang.Sumber bahan aluvial ini berasal dari batuan metaforfosa dan granit.
d. Tanah
Keadaan tanah di TNLL bervariasi dari yang belum berkembang (entisol), sedang berkembang (inseptisol) sampai sudah berkembang (alfisol) dan sebagian kecil ultisol.
e.  Iklim, Suhu, Curah Hujan, kelembaban
Bagian utara kawasan Taman Nasional Lore Lindu mempunyai tipe iklim C/D (musiman) dengan curah hujan rata-rata tahunan berkisar antara 855-1200 mm/tahun.Bagian Timur kawasan TNLL punya tipe iklim B (agak musiman) dengan curah hujan berkisar antara 344-1400 mm/tahun. Bagian barat TNLL punya tipe iklim A (lembab permanen) dengan curah hujan rata-rata tahunan antara 1200-2200 mm/tahun. Secara keseluruhan curah hujan di TNLL bervariasi dari 2000-3000 mm/tahun di bagian utara  dan 3000-4000 mm/tahun di bagian Selatan. Suhu/temperatur berkisar antara 22-340 C, rata-rata kelembaban udara 98 % dengan kecepatan angin rata-rata 3,6 km/jam (Balai TNLL,2013).
f. Hidrologi
Taman Nasional Lore Lindu mempunyai fungsi tangkapan air yang besar, didukung oleh dua sungai besar yaitu sungai Gumbasa di bagian utara yang bergabung dengan sungai Palu di bagian barat serta sungai Lariang di bagian Timur, selatan, dan baratnya. Fungsi hidrologis ini sangat besar manfaatnya bagi masyarakat sekitar kawasan dan Sulawesi Tengah umumnya (Balai TNLL,2013).
g. Aksesibilitas
Dapat dicapai melalui jalur darat dari kota Palu. Lokasi yang dapat ditempuh dengan kendaraan roda dua maupun roda empat adalah Palu-Bidang Pengelolaan TN Wilayah I Saluki, Palu-Bidang Pengelolaan TN Wilayah II Makmur, Palu-Bidang Pengelolaan TN Wilayah III Poso. Ada beberapa resort yang hanya dapat ditempuh dengan jalan kaki/naik kuda dan motor ojek yaitu jalur Gimpu-Bada, Bada-Doda, Toro-Katu dan Rahmat-Dataran Lindu. 
4.1.3 Potensi Ekologis
a. Flora
Taman Nasional Lore Lindu terbagi ke dalam 4 zona vegetasi, yaitu Hutan Hujan Dataran Rendah (<1.000 mdpl), Hutan Hujan Sub Pegunungan (1.000 – 1.500 mdpl), Hutan Pegunungan (1.500 – 2.000 mdpl) dan Hutan Sub Alpin (>2.000 mdpl).
-    Vegetasi Hutan Hujan Dataran Rendah
Komposisi floranya lebih beragam. Flora yang ditemukan antara lain: Pawa (Mussaendopsis beccariana), Tahiti (Dysoxylum sp.), Nunu (Ficus sp.), Ngkera dan Lawedaru (Myristica spp.), Mpora dan Mpire (Caryota spp.), Saguer (Arenga pinnata), Take (Arenga sp.), Uru ranto (Elmerilia ovalis), Luluna (Strychnos axillaris), Palaku (Celtis sp.), Ntorade (Pterospermum subpeltatum), Ndolia (Canangium odoratum), Tea here (Artocarpus elasticus), Tea uru (Artocarpus teijmannii), Duria (Durio zibethinus), Wara dilameo (P. hirsuta), Bambu pemanjat (Dinochloa scandens), Elastostema, Costus, Cyrtandra, Nephrolepis, Neuburgia.
-   Vegetasi Hutan Hujan Sub pegunungan
Flora yang ditemukan: Kelompok uru (Magnoliaceae), Uru ranto (Elmerillia ovalis), Uru tomu (Elmerillia sp.), Elmerillia celebica, Manglietia glauca, Talauma liliiflora, Konore (Adinandra sp.), Pangkula, ntangoro (Ternstroemia spp.), Kauntara (Meliosma nitida), Kau tumpu (Turpinia sphaerocarpa), Mpo maria (Engelhardtia serrata).
-   Vegetasi Hutan Pegunungan
Flora yang ditemukan antara lain: Kaha (Castanopsis argentea), Palili bahe, palili nete, palili pance (Lithocarpus spp.). Agathis philippinensis, Podocarpus neriifolia, Podocarpus imbricatus, Taxus baccatus, Dacrydium falcifolia, Phyllocladus hypophyllus, Tristania whiteana dan Tristania sp., Calophyllum spp., Garcinia spp., Tetractonia haltumi, Polyosma integrifolia dan Gynotraches axillaris, Coelogyne, Thelasis, Appendicula, Glomera, Phreatia, Elastostema, Cyrtandra, Goniophlebium persicifolium, Oleandra neliiformis, Diplazium bantamense.

-   Vegetasi Sub Alpin
Flora yang ditemukan Leptospermum, Rapanea, Myrsine, Phyllocladus hyphophyllus, Eugenia sp., Paku pohon (Alsophylla sp.), jenis palem (Pinanga) (Balai TNLL,2013).
b.  Fauna
-  Mamalia besar
Anoa atau kerbau kerdil, satwa endemik Sulawesi. Nama daerah: Sapi utan, Anoang, Kerbau pendek, Dangko, Bondago tutu, Buulu, Tutu dan Sako. Dua jenis anoa di TNLL yaitu Anoa quarlesi dan Anoa deoressicornis. Babi rusa (Babyrousa babyrusa), babai  Sulawesi (Sus celebensis),  Macaca tonkeana,    Phalanger ursinus,    kus - kus  Sulawesi (P. celebencis), Tarsius Sulawesi (Tarsius spectrum), Rusa (Cervus timorensis)(Balai TNLL,2013).
-   Burung
Kawasan hutan TNLL merupakan taman surga tempat hidup berbagai jenis burung. Berdasarkan hasil penelitian Dick Watling tahun 1981 mencatat 197 jenis, Mallo dan Buttu Ma’dika tahun 1999 mencatat 227 jenis dan Mallo tahun 2001 mencatat 249 jenis burung. Hasil penelitian terbaru Dewi M. Prawiradilaga, Idrus Tinulele, dkk Juli 2003 mencatat ada 267 jenis burung ditemukan di TNLL. Hal ini menunjukkan bahwa jumlah jenis burung di TNLL masih terus bertambah, bahkan diduga masih bisa mendapatkan jenis baru. Jenis burung yang ditemukan antara lain Nuri Sulawesi (Tanygnatus sumatrana), Loriculus exilis, Trichologssus platurus, Cacatua sulphurea, Rangkong (Buceros rhinoceros dan Rithyceros cassidix), Pecuk ular (Anhinga rufa), Rallus plateni, Scolopax celebencis, Tyto inexspectata, Geomalia heinrichi, Macrocephalon maleo, Megapodius frecycynent(Balai TNLL,2013). 
-  Reptil
Ular pyton (Phyton reticulatus), ular Racers (Elaphe erythrura, Gonyosonia janseni, Mack viver (Psammodymaster pulverulenthus dan Xemopeltis unicolor), king cobra (Ophiophagus hannah) (Balai TNLL,2013)


Selasa, 20 Januari 2015

pengelolaan mangrove dikelurahan kabonga besar, Kecamatan Banawa Donggala

 

Cara pengelolaan mangrove dikelurahan kabonga besar, Kecamatan Banawa Donggala
Pengelolaan mangrove dikelurahan kabonga besar adalah termasuk program pemerintah TNI-AL, bekerja sama dengan masyarakat setempat.  Bentuk-bentuk pengelolaan mangrove dikelurahan kabonga besar adalah sebagai berikut:
1. Melakukan penanaman
Dari hasil wawancara dengan masyarakat di kelurahan kabonga besar, Bentuk pengelolaan hutan mangrove dikelurahan kabonga besar adalah dengan cara melakukan penanaman mangrove. Cara melakukan penanaman mangrove adalah sebagai berikut:
a. Asal  bibit
Bibit mangrove yang  berasal dari lokasi setempat yang diambil dari  mangrove disekitar itu sendiri seperti buah atau propagul mangrove yang diambil  dari pohon mangrove itu sendiri atau yang jatuh dari pohonnya dan ada juga dalam bentuk bibit dari persemaian yang merupakan pemberian dari dinas perikanan dan TNI-AL. bibit mangrove disesuaikan dengan kondisi tanahnya yang akan dilakukan di lokasi tanam untuk penyesuaian dengan lingkungan setempat. Jenis bibit mangrove yang ditanam yaitu ada 3 jenis, Rhizophora apiculata, Rhizhopora mucronata dan Sonneratia alba.
b. Alat dan bahan yang digunakan
Alat dan bahan yang digunakan adalah tiang terbuat dari bambu yang berfungsi sebagai penanda apabila mangrove telah ditanam.dan sebagai tiang untuk mangrove, dan tali rafia untuk pengikat bibit mangrove ke bambu.
c. Penanaman
Jumlah bibit yang ditanam berjumlah  1100 bibit mangrove dengan luas area  tanam  yaitu seluas 300x10 meter dengan jarak tanam antara 1x1 meter. Bibit ditanam pada area yang masih kosong dan belum terdapat mangrove. Penanaman mangrove  dilakukan dengan dua cara yaitu dengan cara menanam langsung buah mangrove (propagul) ke areal penanaman dan melalui persemaian bibit. 
Cara penanaman mangrove dengan menanam langsung buah adalah dengan mengambil buah mangrove jenis rhizophora setelah itu diikat ke tiang bambu dan ditancapkan langsung ke tanah. Sedangkan penanaman dengan bibit dari persemaian adalah dengan mengeluarkan bibit dari polibag, Setelah itu bibit mangrove di tanam dengan menggali lubang sedalam 10 cm dan bibit diikat dengan tali rafia ke tiang bambu setelah itu ditanam.  
Akan tetapi dari jumlah bibit yang ditanam tidak semuanya hidup. Hal ini disebabkan karena adanya terpaan ombak yang keras dan predator seperti kambing, sehingga membuat bibit mangrove yang baru ditanam sebagiannya rusak. 
2. Tidak menebang mangrove
Selain melakukan penanaman, bentuk pengelolaan lain yang dilakukan oleh masyarakat adalah dengan tidak melakukan penebangan mangrove,  bahkan untuk dijadikan sebagai bahan bakar seperti kayu api, masyarakat tidak berani melakukan penebangan.
Dari hasil wawancara dilapangan, menurut masyarakat dikelurahan kabonga besar Faktor yang menyebabkan masyarakat tidak berani melakukan penebangan mangrove adalah karena adanya pemantauan  dari pemerintah TNI-AL, dan  bagi masyarakat yang berani melakukan penebangan, akan langsung berurusan dengan pemerintah. Selain itu menurut adat, mangrove dikelurahan kabonga besar dianggap sebagai tanaman peninggalan para nenek moyang yang tidak boleh dirusak. 


Rabu, 19 November 2014

foto anak SMA cantik dan imut

foto anak SMA cantik dan imut








 

cantik kan?? nih alamat fb nya disini

Sabtu, 15 November 2014

contoh Kata Pengantar Makalah PSDH

 

KATA PENGANTAR

Puji dan syukur kami panjatkan kehadirat Allah SWT, karena berkat rahmat dan hidayah-Nya lah penulis dapat menyelesaikan makalah ini yang berjudul “Perencanaan Reklamasi Lahan Tambang Bawah Tanah dengan Pohon Durian”.Makalah ini disusun oleh penulis dengan tujuan untuk memberikan infoemasi kepada pembaca sehingga dapat menambah wawasan pembaca mengenai manfaat pengolahan pohon untuk reklamasi lahan tambang di daerah Kalimantan Selatan.Di samping merupakan tugas dari mata kuliah Pengelolaan Sumber Daya Hayati.

Untuk itu pada kesempatan ini, dengan segala kerendahan hati penulis menyampaikan rasa terima kasih yang sebesar-besarnya kepada dosen pengajar atas masukan dan kepada teman-teman atas saran-sarannya yang bermanfaat bagi terwujudnya makalah ini.Penulis tidak dapat membalas bantuan yang sangat berarti ini, karena itu penulis hanya mampu menadah tangan dan berdoa kehadirat Allah SWT, semoga jasa dan budi yang telah diberikan kepada penulis di terima di sisi Allah SWT.

Penulis menyadari bahwa makalah ini masih belum sempurna seperti yang diharapkan.Oleh karena itu, penulis berharap masukan-masukan dari berbagai pihak, baik berupa kritik maupun saran yang sifatnya membangun.Akhirnya, penulis berharap semoga makalah ini dapat bemberikan manfaat bagi para pembaca.



Banjarbaru, Oktober 2012

Penulis

Pengelolaan Buahdurian (Durio Sp.)Untuk Reklamasi Lahan Tambang Di Kalimantan Selatan

 

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kegiatan penanaman kembali (reklamasi) di lahan eks tambang selama ini menggunakan tanaman pohon cepat tumbuh dan besar, seperti pohon sengon memang memberikan wujud yang cepat terlihat menghijaukan kembali lahan.Karena itu pohon sengon atau jenis pohon lainnya yang sifatnya bisa tumbuh dan besar dengan cepat menjadi pilihan semua perusahaan tambang dalam kegiatan reklamasinya.Reklamasi dengan menanam pohon sengon akan cepat mengembalikan lahan hijau. Namun dirinya menilai reklamasi dengan pohon sengon dan sejenisnya itu tidak memberikan manfaat langsung bagi masyarakat selain lahan yang kembali hijau.
Aktivitas reklamasi lahan bekas tambang, kini tidak hanya sebatas menghijaukan kembali lahan bekas tambang.Tapi diarahkan agar pohon yang ditanam di areal itu bisa memberikan manfaat sebesar-besarnya bagi masyarakat sekitar dan menjamin kelangsungan biodiversity.Kalimantan Selatan merupakan daerah yang terkenal kaya akan sumber daya alam, dengan bahan galian jenis golongan A atau golongan bahan galian yang strategis, artinya bahan galian yang hasilnya sebagai sumber devisa negara, contohnya minyak bumi, batubara, gas alam, uranium, nikel, kolbat, dan timah. Dengan komoditi unggulan tersebut, sektor pertambangan menjadi salah satu leading sector dalam perekonomian Kalimantan Selatan.Sektor ini memberikan kontribusi terbesar kedua dala menopang perekonomian Kalimantan Selatan.
1.2 Rumusan Masalah
Merujuk pada rumusan masalah diatas, batasan masalah makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Apa yang dimaksud dengan reklamasi lahan ?
2. Seberapa pentingnya penanaman pohon pampakin dalam pelaksanaan reklamasi lahan di daerah Kalimantan Selatan ?
3. Manfaat penanaman Durio untukreklamasi tambang di Kalimantan Selatan ?


1.3 Tujuan
Adapun tujuan dari kegiatan penelitian ini adalah sebagai berikut:
1. Memberikan pemahaman yang mendalam mengenai aturan reklamasi yang terdapat pada daerah Kalimantan Selatan.
2. Mengetahui dan menambah wawasan serta melakukan pengaturan reklamasi di daerah Kalimantan Selatan, sehingga bisa mengakomodir semua kepentingan dan berorientasi bagi kesejahteraan rakyat.


BAB II
ISI
2.1 Pengertian Reklamasi
Kata reklamasi berasal dari kata to reclaim yang bermakna to bring backto proper state, sedangkan arti umum reklamasi adalah the making of land fit for cultivation. Membuat keadaan lahan menjadi lebih baik untuk dibudidayakan,atau membuat sesuatu yang sudah bagus menjadi lebih bagus, sama sekali tidakmengandung implikasi pemulihan ke kondisi asal tapi yang lebih diutamakanadalah fungsi dan asas kemanfaatan lahan. Arti demikian juga dapatditerjemahkan sebagai kegiatan-kegiatan yang bertujuan mengubah peruntukansebuah lahan atau mengubah kondisi sebuah lahan agar sesuai dengankeinginan manusia (Young, 2004 ).
Kegiatan reklamasi meliputi dua tahapan, yaitu:
a. Pemulihan lahan bekas tambang untuk memperbaiki lahan yang sudah terganggu ekologinya.
b. Mempersiapkan lahan bekas tambang yang sudah diperbaiki ekologinya
untuk pemanfaatan selanjutnya.
Sasaran akhir dari reklamasi adalah terciptanya lahan bekas tambang yang kondisinya aman, stabil dan tidak mudah tererosi sehingga dapat dimanfaatkan kembali sesuai dengan peruntukkannya.
Reklamasi bekas tambang yang selanjutnya disebut reklamasi adalahusaha memperbaiki atau memulihkan kembali lahan dan vegetasi dalam kawasan hutan yang rusak sebagai akibat kegiatan usaha pertambangan dan energi agar dapat berfungsi secara optimal sesuai dengan peruntukannya.(Permenhut Nomor: 146-Kpts-II-1999).Rehabilitasi hutan dan lahan adalah kegiatan yang dimaksudkan untuk memulihkan, mempertahankan dan meningkatkan fungsi hutan dan lahan sehingga daya dukung, produktifitas, dan peranannya dalam mendukung sistem penyangga kehidupan tetap terjaga (Fajar, 2004).
Reklamasi tidak selalu berupa pengurugan, prosesnya adalah pengeringan kawasan berair. Proses tersebut dapat diperoleh dengan dua cara, pertama dengan pengurugan dan kedua dengan penyedotan (pembuangan) air keluar dari kawasan tersebut. Cara pengurugan adalah cara yang paling populer dan paling mudah dilakukan, dan banyak diamalkan oleh pelaku reklamasi. Sedangkan cara penyedotan air adalah cara yang paling rumit dan memerlukan pengelolaan serta pemeliharaan (maintenance) yang teliti dan terus menerus. Contoh negara pengamal cara kedua ini adalah Belanda. Reklamasi lahan telah diatur dalam Keputusan Menteri Negara Lingkungan Hidup No. 43 Tahun 1996 tentang: Kriteria Kerusakan Lingkungan Bagi Usaha Atau Kegiatan Penambangan Bahan Galian Golongan C Jenis Lepas Di Dataran. Serta tertera dalam UU No: 04 Tahun 2009 Tentang Pertambangan Mineral dan Batu Bara masih menggunakan istilah Reklamasi (Soemarwoto, 2005). Cara reklamasi memberikan keuntungan dan dapat membantu negara/kota dalam rangka penyediaan lahan untuk berbagai keperluan (pemekaran kota), penataan daerah pantai, pengembangan wisata bahari dan masih banyak lagi. Perlu diingat bahwa bagaimanapun juga reklamasi merupakan bentuk campur tangan (intervensi) manusia terhadap keseimbangan lingkungan alamiah yang selalu dalam keadaan seimbang dinamis. Perubahan ini akan melahirkan perubahan ekosistem seperti perubahan pola arus, erosi dan sedimentasi pantai, berpotensi meningkatkan bahaya banjir, dan berpotensi gangguan lingkungan di daerah pampakinn (seperti pengeprasan bukit atau pengeprasan pulau untuk material timbunan). Guna mereduksi dampak semacam itu, diperlukan kajian mendalam terhadap proyek reklamasi dengan melibatkan banyak pihak dan interdisiplin ilmu serta didukung dengan upaya teknologi.Kajian cermat dan komprehensif tentu bisa menghasilkan area reklamasi yang aman terhadap lingkungan di sekitarnya.Sementara itu, karena lahan berada di daerah perairan, maka prediksi dan simulasi perubahan hidrodinamika saat pra, dalam masa pelaksanaan proyek dan pascaserta sistem drainasenya juga harus diperhitungkan.Karena perubahan hidrodinamika dan buruknya sistem drainase ini yang biasanya berdampak negatif langsung terhadap lingkungan dan masyarakat sekitar, yang perlu dipikirkan lagi adalah sumber material urugan.Material urugan biasanya.
tujuan utama reklamasi adalah menjadikan kawasan berair yang rusak atau tak berguna menjadi lebih baik dan bermanfaat. Kawasan baru tersebut, biasanya dimanfaatkan untuk kawasan pemukiman, perindustrian, bisnis dan pertokoan, pertanian, serta objek wisata.Reklamasi diamalkan oleh negara atau kota-kota besar yang laju pertumbuhan dan kebutuhan lahannya meningkat demikian pesat tetapi mengalami kendala dengan semakin menyempitnya lahan daratan (keterbatasan lahan). Dengan kondisi tersebut, pemekaran kota ke arah daratan sudah tidak memungkinkan lagi, sehingga diperlukan daratan baru. Alternatif pampakinnnya adalah pemekaran ke arah vertikal dengan membangun gedung-gedung pencakar langit dan rumah-rumah susun.Semua pekerjaan pengurugan tidak termasuk dalam kategori reklamasi dan reklamasi tidak selalu berupa pengurugan.Tidak semua pekerjaan pengurugan di suatu kawasan dapat disebut reklamasi.Pada definisi di atas terdapat syarat bahwa kawasan yang diperbaiki tersebut adalah berair. Jadi untuk kawasan yang tak berair, tak tepat jika dikatakan kawasan tersebut akan direklamasi. Maka untuk pekerjaan penimbunan tanah di kawasan tak berair, disebut saja dengan pekerjaan pengurugan atau penimbunan tanah (Sitorus 2000).
2.2 Revegetasi
Revegetasi adalah usaha atau kegiatan penanaman kembali lahan bekastambang (Ditjen RLPS).Setiadi (2006) menyatakan bahwa model revegetasi dalam rehabilitasi lahan yang terdegradasi terdiri dari beberapa model antara lain restorasi (memiliki aksentuasi pada fungsi proteksi dan konservasi serta bertujuan untuk kembali ke kondisi awal), reforestasi dan agroforestri. Lebih lanjut lagi dinyatakan bahwa aktivitas dalam kegiatan revegetasi meliputi beberapa hal yaitu (i) seleksi dari tanaman lokal yang potensial, (ii) produksi bibit, (iii) penyiapan lahan, (iv) amandemen tanah, (v) teknik penanaman, (vi)pemeliharaan, dan (vii) program monitoring,
Revegetasi yang sukses tergantung pada pemilihan vegetasi yangadaptif, tumbuh sesuai dengan karakteristik tanah, iklim dan kegiatan pasca penambangan.Vegetasi yang cocok untuk tanah berbatu termasuk klasifikasi herba, pohon dan rumput yang cepat tumbuh, sehingga dapat mengendalikan erosi tanah.Tumbuhan yang bersimbiosis dengan mikroorganisme tanah yang mampu memfiksasi nitrogen adalah salah satu vegetasi revegetasi lahan pasca tambang, seperti tanaman yang termasuk dalam famili Leguminoceaea (Vogel, 1987 dalam Setiawan, 2003).
Pada lahan bekas tambang, revegetasi merupakan sebuah usaha yangkompleks yang meliputi banyak aspek, tetapi juga memiliki banyak keuntungan.Beberapa keuntungan yang didapat dari revegetasi antara lain, menjaga lahan terkena erosi dan aliran permukaan yang deras; membangun habitat bagi satwaliar; membangun keanekaragaman jenis-jenis lokal; memperbaiki
produktivitas dan kestabilan tanah; memperbaiki kondisi lingkungan secara biologis dan estetika; dan menyediakan tempat perlindungan bagi jenis-jenis lokal dan plasma nutfah (Setiadi, 2006).

2.3Evaluasi Keberhasilan Revegetasi
Lahan disebut berhasil direstorasi dan bersifat swalanjut manakaladapat memenuhi kriteria-kriteria berikut (i) persen daya hidup bibit yang ditanam adalah tinggi, (ii) pertumbuhan vegetasinya normal dan swalanjut, (iii) perkembangan akar dapat menembus tanah asli (yang berkepadatan tinggi) dan menjangkau bagian lain, (v) penutupan tajuknya cepat, terstratifikasi dan melebar, (v) lahan menghasilkan serasah yang melimpah dan terdekomposisi dengan cepat yang ditunjukkan dengan nisbah C:N yang cepat turun dan konstan, (vi) terjadi rekolonisasi spesies-spesies spesifik lokasi, dan (vii) tercipta habitat bagi beraneka jenis satwa liar. Setidak-tidaknya ada lima hal penting yang harus diingat sehubungan dengan restorasi yaitu (i) rekolonisasi, (ii) retensi hara dan air, (iii) salingtindak biotik, (iv) produktivitas, dan (v)
keswalanjutan (Setiadi, 2004).
Daniel, Helms dan Baker (1987) menyatakan bahwa perhatian pertamadari keberhasilan penghutanan kembali adalah kondisi dari tanaman itu yang harus sehat, berbentuk baik, dan bebas dari persaingan hama dan gulma. Tanaman itu hendaknya mempunyai potensi dominasi tinggi dan karakteristik vigor yang diinginkan.Departemen Perindustrian, Pariwisata dan Sumber Daya Pemerintah Australia (2006) menyatakan bahwa umumnya, pemantauan rehabilitasi mencakup:
1. Penilaian kestabilan permukaan (dan lereng)
2. Kinerja lapisan penutup yang dibuat (jika ditaruh di atas limbah tambang
atau limbah pemrosesan mineral)
3. Sifat-sifat pada tanah atau medium zona akar (seperti sifat kimia,
kesuburan dan hubungan airnya)
4. Atribut-atribut struktural pada komunitas tumbuhan (misalnya sebagai
lapisan penutup, kepadatan dan tinggi spesies kayu)
5. Komposisi komunitas tumbuhan (seperti hadirnya spesies yang
diinginkan, gulma)
6. Beberapa indikator terhadap ekosistem yang berjalan (seperti biomassa
mikroba tanah).
Setiadi (2006).
Setiadi menyebutkan beberapa faktor sebagai bahan evaluasirevegetasi antara lain, performa pertumbuhan dan kesesuaian jenis; kesinambungan dan tingkat pemenuhan kebutuhan diri oleh tanaman; peningkatan lingkungan mikro-habitat; pengurangan dampak terhadap lingkungan serta keuntungan bagi mayarakat sekitar. Sedangkan beberapa kriteria mengenai lahan revegetasi yang swalanjut antara lain: daya hidup anakan yang tinggi; pertumbuhan tanaman yang normal dan berkesinambungan; perkembngan akar yang telah mampu menembus lubang tanam; penutupan tajuk yang cepat, beragam dan berstratifikasi; produksi serasah yang banyak dan mudah terdekomposisi; dapat menghasilkan kolonisasi spesies lokal dan dapat menciptakan suasana yang cocok bagi kehidupan satwaliar. Secara singkat, faktor-faktor yang menjadi parameter bagi evaluasi keberhasilan revegetasi.
Evaluasi keberhasilan revegetasi adalah sebuah upaya untuk menjaminbahwa revegetasi tengah berjalan menuju arah yang diharapkan yaitu kondisi asli sebelum terjadinya gangguan. Selain itu, hal ini juga merupakan sebuah mekanisme untuk menentukan keberhasilan revegetasi yang telah dilakukan, berdasarkan parameter silvikultur dan ekologis juga sesuai dengan peraturan pemerintah yang mengikat bagi pelaksana kegiatan revegetasi, dalam hal ini
perusahaan pertambangan.
Penambangan bahan galian tertinggal khususnya oleh masyarakat atau PETI terjadi pada wilayah bekas tambang lama ataupun yang belum lama dilakukan reklamasi (Gambar 10), bahkan ketika kegiatan usaha pertambangan masih berlangsung pada blok yang berbeda. Mengingat hal tersebut, maka agar reklamasi dapat berhasil dengan baik, bahan galian tertinggal tidak turun nipampakinnya dan berpeluang untuk kembali diusahakan, perlu dilakukan langkah penanganan dan perlindungan antara pampakinn bahan galian yang tertinggal secara ekonomi berpotensi diusahakan untuk pertambangan rakyat atau pertambangan sekala kecil, perlu dilakukan sterilisasi, dengan menambang dan mengolahnya sehingga tidak ada lagi yang tersisa. Pada pengakhiran tambang emas endapan emas aluvial yang ada, ditambang dengan target perolehan 100% adalah untuk menghilangkan risiko kemungkinan gangguan terhadap lahan basah di masa mendatang. Bahan galian yang telah terganggu keberadaannya, seperti telah tersimpan di stock pile akan tetapi mempunyai kualitas atau kadar yang belum mempunyai nipampakin ekonomi, harus disimpan pada lokasi dengan penanganan agar tidak turun nipampakin ekonominya dan apabila akan dimanfaatkan dapat dengan mudah digali. Serta bahan galian in situ yang karena dimensi atau kadarnya belum mempunyai nipampakin ekonomi agar tidak menjadi areal penimbunan waste atau tailing untuk mencegah turunnya nipampakin ekonomi (Inamdar, 2002).
2. 4 Pemilihan Pohon Durio sebagai Reklamasi Lahan
Sebagai tumbuhan endemik Kalimantan, Durio yang memiliki genus Durio morfologinya yaitu kulit buah berwarna kuning da nada yang berwarna hijau, daging buah bertekstur dengan ketebalan yang berbeda, tinggi pohon ini mencapai 10 m - 50 m. Perbedaan sangat mencolok adalah pada dari daun, buah dan bunga nya. Daun lebar dan berwarna hijau, pada bagian bawahnya kuning keemasan yang lebih cerah dan mengkilap.Kulit buah berwarna hijau kekuningan duri agak jarang, besar, runcing, dan tajam.Tekstur daging buah agak basah berwarna kuning dan aroma yang menyengat serta mengandung alkohol.
Durioadalah tanaman liar yang tumbuh di hutan Kalimantan dan tanaman ini sudah dikenal penduduk lokal dengan baik, tetapi jenis buah yang satu ini kurang dikenal di luar Kalimantan, terutama di Pulau Jawa. Buah ini juga dikenal dengan beberapa nama pampakinn seperti durian kuning, durian tinggang, durian pulu, nyekak, ruas, sekawi, pekawai dan pampakinn-pampakinn. Durino kutejensis begitu nama latin durian pampakin atau pampakin ini, menunjukkan bahwa berasal dari Kutai Kartanagara, sebuah kabupaten di Kalimantan Timur. Buah ini dengan gampang ditemukan di hampir setiap wilayah di Kalimantan Timur dan Kalimantan Selatan.
Durio mempunyai aroma yang khas (berbau tajam dan menyengat), tahan terhadap ulat buah, daging buah agak berair, warna daging buah kuning-orange.Pada umumnya rasa dan aroma buah durian dan sejenisnya sangat dipengaruhi oleh kandungan gula, alkohol, dan asam amino aromatik. (May, 2010).
Tumbuhan ini menyukai jenis tanah endapan lumpur atau aluvial yang terdapat di lereng pegunungan dan bukit hingga agak ke lereng dengan ketinggian 50-200 meter dari permukaan laut.Oleh karena itu, tanaman ini banyak ditemukan di pinggiran hutan dekat dataran rendah sangat cocok dengan lahan reklamasi pasca tambang.Kandungan tanah yang sangat cocok buat tanaman ini adalah tanah gambut karena pampakin hanya tumbuh di daerah Kalimantan yang tanahnya merupakan tanah gambut.Perilaku tanah gambut yang berbeda dengan tanah lempung menjadikan tanah gambut mempunyai keunikan karakteristik tersendiri. Misalnya, dalam hal sifat fisik tanah gambut adalah tanah yang mempunyai kandungan organik tinggi, kadar air tinggi, angka pori besar, dan adanya serat yang mengakibatkan tanah gambut tidak mempunyai sifat plastis. Dari sifat mekaniknya tanah gambut mempunyai sifat kompresibilitas dan daya dukung yang rendah. Banyak studi telah dilakukan pada tanah lempung untuk melihat perubahan angka pori, e, kadar air, w, dan derajat kejenuhan, Sr, akibat peristiwa kapiler dengan cara pengujian dalam siklus pengeringan-pembasahan. Dari hasil penelitian ini juga diidentifikasikan rentang jenuh dan rentang tidak jenuh dari setiap tanah lempung.Dan juga tanpa adanya beban mekanik, alur tegangan efektif tanah lempung dalam zone jenuh sejajar dengan alur tegangan efektif yang diperoleh pengujian triatrial isotroop dan oedometrik (May, 2010). 2.4 Pampakin sebagai Potensi Ekspor Kaliamantan Selatan Pengembangan komoditas buah tropika, khususnya durian, perlu ditingkatkan untuk menahan laju impor. Tanaman durian yang berkembang di masyarakat umumnya tumbuh secara alamiah dan dimiliki secara turun temurun. Sepampakinn varietasnya yang beragam, kebanyakan tanaman masih berasal dari biji dan tidak mendapatkan input yang memadai. Namun demikian, komoditas ini mampu bertahan sebagai komoditas buah ke-4 di Indonesia setelah pisang, jeruk, dan mangga, dengan produksi 682.000 ton dari luas panen 56.655 ha di tahun 2008. Fakta ini merupakan salah satu petunjuk adanya potensi besar yang dimiliki durian dengan memperhatikan aspek kuantitas, pengembangan komoditas ini ke depan juga perlu memperhatikan aspek kualitas. Tidak kalah penting juga perlu dicari terobosan-terobosan dalam membangun citra durian nusantara.
Salahsatunya dengan memanfaatkan potensi sumberdaya genetik lokal kerabat durian yang banyak tersebar di berbagai daerah.Durian merupakan salah satu genus tanaman buah asli Indonesia dan Kalimantan dianggap sebagai pusat asalnya (center of origin). Diantara 28 spesies yang ada di dunia, 19 spesies berasal dari Kalimantan dan Sumatera dan 7 spesies diketahui menghasilkan buah yang bisa dimakan (edible). Durio kutejensis merupakan salah satu dari enam durian edible tersebut (Molly, 2008).Aroma yang sangat lembut bahkan hampir tidak beraroma, atau kadang beraroma wangi mawar membuka peluang untuk konsumsi durian di dalam ruangan atau dihidangkan di meja makan, dimana hal ini tidak biasa untuk durian.Demikian pula aroma yang lembut ini lebih sesuai untuk konsumen baru, apabila ingin mengenalkan durian di pasar ekspor. Para konsumen baru biasanya akan menolak durian pada kesan pertama sehubungan dengan baunya yang tidak nyaman. Demikian juga masalah transportasi, yang biasanya menolak penumpang yang akan membawa durian. Mungkin hal ini nanti tidak lagi menjadi masalah dengan Pampakin.Warna yang menyolok dan atraktif, kuning tua atau oranye, sangat menarik dan menggugah selera. Sepampakinn menunjukkan tingginya kandungan karoten atau provitamin A, dengan karakter warna yang atraktif ini menjadikan Pampakin lebih sesuai untuk dipasarkan dalam bentuk segar tanpa kulit dibungkus dengan stereoform dan plastik transparan, atau disebut durian segar dengan olahan minimal. Disamping memberi kesan yang menarik, cara ini akan memudahkan untuk ekspor. Dengan cara ini akan lebih efisien dalam biaya, karena hanya memasarkan bagian edibel dan biji, juga mengurangi sampah bagi negara tujuan, karena lebih dari 60% durian adalah kulit. Negara maju seperti Australia bahkan telah menerapkan peraturan hanya impor durian segar tanpa kulit, karena alasan sampah dan karantina. Sebagaimana diketahui, bersama kulit durian akan terbawa berbagai mikroorganisme dan telur hama yang mungkin akan berbahaya bagi negara tujuan ekspor. Daya simpan lebih lama yang dimiliki pampakin akan menjadi salah satu solusi dalam distribusi durian, baik di dalam negeri maupun untuk tujuan ekspor. Sebagaimana masalah durian lokal kita yang umumnya mudah pecah karena memiliki umur simpan yang pendek.


BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat ditarik dari paper ini sebagai berikut:
1. Reklamasi merupakan suatu proses perbaikan pada suatu daerah tertentu (lahan bekas tambang) sebagai akibat dari kegiatan penambangan sehingga dapat berfungsi kembali secara optimal.
2. Durio memiliki suatu kekuatan yang penting dalam proses pengembalian unsur hara yang sudah diambil oleh karena kegiatan pertambangan dan hal ini menjadi signifikan dikarenakan Durio sudah mampu hidup dan menduduki satuan struktural dari fungsi ekologi.
3. Kandungan tanah yang sangat cocok membuat tanaman pohon durio ini yaitu tanah gambut, karena pampakin hanya tumbuh di daerah Kalimantan yang tanahnya merupakan tanah gambut. Sehingga pertumbuhannya tidak sulit dan memiki beberapa keunggulan durio aromanya menyengat.Tahan terhadap ulat buah, daging buahnya agak basah, warna daging buah kuning-orange.
4. Potensi buah tropis yang sangat besar di Kalimantan Selatan merupakan aset yang harus mendapat perhatian semua stakeholder. Minimnya informasi mengenai buah Pampakin memerlukan pengkajian lebih lanjut supaya dapat dioptimalkan kegunaan dan manfaatnya.
3.2 Saran
Studi ini hanya berdasarkan tinjauan pustaka yang berasal dari referensi buku maupun internet, diharapkan pada studi selanjutnya dapat mengamati secara langsung bagaimana pelaksanaan dan manfaat reklamasi pada daerah Kalimantan Selatan

DAFTAR PUSTAKA
R. Fajar, 2004. Potensi Durio.
http://angganimolly.blogspot.com/2008/12/potensiDurio.html
Diakses tanggal 29 Oktober 2012
Inamdar, A2002. Kelian Mine Closure Steering Committee. Bogor: Independent Facilitator Report.
May, Siti. 2010. Pohon Pempaken.
http://sitimay.blogspot.com/2010/11/pohon-pempaken.html
Diakses tanggal 28 Oktober 2012
Sitorus.S.R.P. 2000. Pengembangan Sumberdaya Tanah Berkelanjutan. Bogor: Fakultas pertanian lnstitut Pertanian Bogor (IPB).
Soemarwoto, 2005. Analisis Mengenai Dampak Lingkungan. Yogyakarta: Gadjah Mada Uversity Press.
Young,2004.Teknologi Pertambangan Indonesia. Jakarta: Pusat Penelitlan dan Pengembangan Teknologi Mineral, Direktorat Jenderal Pertambangan Umum Departemen Pertambangan dan Energi. Suprapto, S.J., 2006. Pemanfaatan dan Permasalahan Endapan Mineral Sulfida pada Kegiatan Pertambangan. Jakarta: Buletin Sumber Daya Geologi. Vol. 1 No. 2.


Perbedaan sel hewan dan sel tumbuhan

Jika kita perhatikan tumbuhan dan hewan memiliki perbedaan yang sangat besar, dimana tumbuhan tidak dapat bergerak dengan aktif seperti hewan dan hewan tidak bisa melakukan fotosintesis. Hal ini disebabkan karena bentuk sel tumbuhan yang kaku sehingga tidak fleksibel, berbeda dengan sel hewan yang fleksibel dan bentuknya dapat berubah-ubah.


Selain dari bentuknya, perbedaan sel tumbuhan dan sel hewan juga dapat dibedakan dari hal-hal berikut:



Perbedaan Sel Hewan dan Sel Tumbuhan
Sel Tumbuhan

struktur sel tumbuhan

 Sel tumbuhan lebih besar dari sel Hewan
 Tidak memiliki lisosom
 Tidak memiliki sentrosom
 Memiliki dinding sel dan membran sel
 Umumnya memiliki plastida
 Mempunyai bentuk yang tetap
 Memiliki vakuola ukuran besar, banyak
Sel Hewan

struktur sel hewan

Sel Hewan lebih kecil dari sel Tumbuhan
Tidak memiliki plastida
Tidak memiliki dinding sel
Memiliki lisosom
Memiliki sentrosom
Mempunyai bentuk tidak tetap
Tidak memiliki vakuala (walaupun ada juga yang memiliki vakuola tapi  ukuran kecil)

Struktur Sel Tumbuhan

Sel Tumbuhan

Di tinjau dari bagian-bagiannya, sel tumbuhan memiliki sedikit perbedaan dengan sel hewan. Perbedaan tersebut yakni: pada sel tumbuhan memiliki dinding sel, plasmodesma, kloroplas, dan vakuola besar, sedangkan pada sel hewan tidak. Bagian-bagian lain yang terdapat pada sel tumbuhan umumnya sama dengan sel hewan.


    Dinding sel

Dinding sel tumbuhan terbentuk dari bahan polisakarida yaitu selulosa. Fungsi dinding sel yaitu melindungi sitoplasma dan membran sitoplasma. Pada beberapa sel tumbuhan sel yang satu dengan sel lainnya dihubungkan dengan plasmodesmata.
Dinding Sel
 
Gambar 11. Dinding sel

 Plastida

Umumnya sel tumbuhan mengandung plastid, ukuran diameternya 4 -6 mikron(μ). Plastida ada yang berwarna ada yang tidak. Plastida yang tidak berwarna disebut leukoplas sedangkan yang berwarna disebut kromoplas. Leukoplas yang berfungsi untuk membuat amilum disebut amiloplas dan yang membuat lemak disebut lipoplas. Sedangkan kromoplas yang mengandung klorofil disebut
kloroplas. Dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Dikenal tiga jenis plastida yaitu :
1.      Leukoplas (plastida berwarna putih berfungsi sebagai penyimpan makanan), terdiri dari:
v Amiloplas (untak menyimpan amilum) dan,
v  Elaioplas (Lipidoplas) (untukmenyimpan lemak/minyak).
v Proteoplas (untuk menyimpan protein).
2.      Kloroplas yaitu plastida berwarna hijau. Plastida ini berfungsi menghasilkan klorofil dan sebagai tempat berlangsungnya fotosintesis.
kloroplas
Gambar 12. Kloroplas


1.      Kromoplas yaitu plastida yang mengandung pigmen, misalnya :

v   Karotin (kuning)
v  Fikodanin (biru)
v  Fikosantin (kuning)
v  Fikoeritrin (merah)
kelompok plastida
Gambar 13. Kelompok  plastida


Vakuola

Vakuola terdapat baik pada sel tumbuhan maupun sel hewan, tetapi pada sel tumbuhan tampak lebih besar dan jelas terutama pada sel yang sudah tua.Vakuola pada sel tumbuhan dikelilingi membran tunggal disebut tonoplas. Vakuola sel tumbuhan umumnya berisi: air, phenol, antosianin dan protein, glikosida , garam-garam organic, protein, tanin (zat penyamak), minyak eteris (misalnya Jasmine pada melati, Roseinepada mawar Zingiberine pada jahe), alkaloid (misalnya Kafein, Kinin, Nikotin, Likopersin dan lain-lain), enzim , butir-butir pati Pada boberapa spesies dikenal adanya vakuola kontraktil dan vaknola non kontraktil. Beberapa ahli tidak memasukkan vakuola sebagai organel sel. Benda ini dapat dilihat dengan mikroskop cahaya biasa. Selaput pembatas antara vakuola dengan sitoplasma disebut Tonoplas vakuola.
vakuola
Gambar 14. Vakuola


Peroksisom (Badan Mikro)

Peroksisom merupakan ruang metabolisme khusus yang dilingkupi oleh membran tunggal. Peroksisom mengandung enzim yang mentransfer hidrogen dari berbagai substrat ke oksigen, yang menghasilkan hidrogen peroksida (H202) sebagai produk-samping, dari sinilah organel tersebut mengambil namanya. H202 yang dibentuk oleh metabolisme peroksisom itu sendiri beracun, tetapi organel ini mengandung suatu enzim yang mengubah H20 menjadi air.
peroksisom
Gambar 15. Peroksisom

Ukurannya sama seperti Lisosom. Organel ini senantiasa berasosiasi dengan organel lain, dan banyak mengandung enzim oksidase dan katalase (banyak disimpan dalam sel-sel hati). Peroksisom tumbuh dengan cara menggabungkan protein dan lipid yang dibuat dalam sitosol, dan memperbanyak jumlahnya dengan membelah diri menjadi dua setelah mencapai ukuran tertentu.

Plasmodesmata
Merupakan suatu saluran terbuka pada dinding sel tumbuhan untuk memfasilitasi, komunikasi, dan transportasi bahan-bahan antara sel-sel tanaman. Fungsi plasmodesmata menghubungkan ruang sitoplasmik dengan saluran khusus yang memungkinkan pergerakan antar air, berbagai nutrisi dan molekul lainnya. Plasmodesmata berada di daerah dinding  sel yang disebut bidangpit primer.
plasmodesmata
Gambar 16. Plasmodesmata

Ringkasan sel Tumbuhan


Sel adalah unit struktural dan fungsional terkecil dari mahluk hidup seluler. Sel pada makhuk hidup dibedakan atas dasar struktur sel dan ada tidaknya membran inti menjadi dua kelompok yaitu kelompok sel prokariotik dan sel eukariotik.
Sel prokariotik contohnya bakteri dan ganggang biru. Sel prokariotik tidak memiliki membran nukleus yang jelas untuk melindungi DNA, sel eukariotik contohnya sel tumbuhan dan hewan tingkat tinggi. Sel eukaryotik memiliki kompartemen sitoplasma yang dikelilingi membran yang jelas, nukleus berisikan DNA. Tumbuhan, fungi, dan hewan adalah eukariota.
Terdapat perbedaan antara sel hewan dan sel tumbuhan, perbedaan tersebut

Sel Hewan terdiri atas:

Membran Plasma, Retikulum Endoplasma (RE) (RE halus (REH) dan RE kasar (REK)), Badan Golgi, Lisosom, Mitokondria, Sentrosom, Inti atau Nukleus, Mikrotubulus, Mikrofilamen.

Sel Tumbuhan terdiri atas:

Dinding sel, PlastidaVakuola, Peroksisom (Badan Mikro)plasmodesmata.

Kata kunci untuk menuju artikel STRUKTUR SEL HEWAN DAN SEL TUMBUHAN ini adalah: sel hewansel tumbuhansel hewan dan sel tumbuhansel tumbuhan dan sel hewanstruktur selsel hwan dan tumbuhan beserta fungsinya


DAFTAR PUSTAKA
Sumber buku :
*      Campbell, et.al. 2010. Biologi Edisi Kedelapan Jilid 1. Jakarta: Erlangga.
*      Nugroho, L. Hartanto, Issirep Sumardi. 2004. Biologi Dasar.Jakarta: Penebar Swadaya.
*      Kimball, Jhon W. 1983. Biologi Edisi Kelima Jilid I. Jakarta: Erlangga